Pages

Bukan Penyesalan

Puisi: Bukan Penyesalan

Masa lalu tak akan pernah bisa dilupakan
Biarlah tetap dihati
Mengukir senyum saat bahagianya
Menjadi pengingat untuk kesalahannya

Jalan-Jalan Hunting Maulid Adat di Semokan, Bayan

Hari itu, tanggal 16 Januari 2014, gw bareng temen2 gw yang lain dari FOKUS UNRAM, anak2 MEDIA UNRAM, dan 2 orang anak Bandung yg kebetulan lagi nyasar di Lombok, berangkat bareng menuju Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Rombongan ada 13 orang dan pengen banget mendokumentasikan kegiatan Maulid Adat di Desa itu. Yang gw heranin adalah kegiatan hunting ini udah gw rencanain dari seminggu yang lalu dan ketika gw ngajakin anak2 ini, gak ada satupun yg bersedia ikut bareng gw. Dan pas Hari H, buseeettttt. :p

Jalan-Jalan Lombok
(Kiri Ke Kanan) Gw, Joan, Junan, Willy, Il, Rambo, Bang Yon
Berangkat dari Kota Mataram jam 14.oo WITA menggunakan sepeda motor, kami tiba di TKP 2,5 jam kemudian. Yah, perjalanan yang cukup melelahkan. Sesampainya di sana, kami mampir di rumah Bang Dedi. Siapa dan bagaimana kami kenal Bang Dedi. Okeh, ada satu rahasia yang belum pernah gw bocorin dalam hidup ini. Gw harap, kalian yg gw kasi tau sekarang rahasia apa itu bisa menutup mulut kalian dan gak nyebarin rahasia itu. Gw gak pengen wartawan datang dan para fans bejibun nungguin tanda tangan gw. Sumpah, jangan sampai deh. Oke, rahasianya adalah Desa Sukadana adalah tempat KKN gw dulu. Dan Bang Dedi adalah pemuda setempat yg gaul banget sama kita2 pas KKN. Plis, jangan kasi tau sapa2.

Jalan-Jalan Lombok
Moment deket2 rumah Bang Dedi
Di rumah Bang Dedi kami beristirahat sejenak sambil menikmati nikmatnya teh hangat. Batang demi batang rokok kami habiskan sambil berdikusi dengan Bang Dedi tentang apa dan bagaimana itu Maulid Adat di Bayan, jam berapa acaranya dan apa saja prosesinya. Ternyata kami telaaat. Acaranya udah dimulai dari kemaren. Dan besok terakhir. Okeh, cm telat setengah dan kami memutuskan untuk tetap hunting.

Jalan-Jalan Lombok
Ini, entah apa namanya
Singkat cerita, malamnya kami menginap di Dusun Semokan, Desa Sukadana, Bayan. Akses jalan menuju ke sana, kereeeeennn. Batu2 lepas, tanah licin akibat baru saja diguyur hujan, jembatan2 yg sekilas tampak tidak meyakinkan. Heee. Di Semokan kami bermalam di rumah Mulyadi, salah satu anak FOKUS UNRAM yg kece banget. Ganteng. Buat cewek2 jomblo, ini kesempatan emas buat kalian. 

Jalan-Jalan Lombok
Ini di Berugaq Rumahnya Mulyadi
Keesokan paginya, pukul 02.30 dinihari, kami berangkat menuju tempat diadakannya acara Maulid Adat. Bagi warga Semokan, tempat inilah rumah asli buat mereka. Di tengah2 hutan belantara. Karena konon katanya tetua mereka pertama kalinya menetap di sini, beranak pinak menjadi banyak orang dan menyebar di daerah sekitarnya. Meskipun warga Semokan memilki rumah lain yg ditempati, mereka menyebutnya dengan rumah kebun. Bukan rumah asli mereka.

Jalan-Jalan Lombok
Bareng Anak2 Semokan
Sampai di tempat parkir motor, kamipun berjalan kaki sejauh satu kilometer menyusuri hutan. Dari kejauhan terdengar suara gong dialunkan dari tempat acara. Lumayan bikin merinding. Suasananya mirip2 kayak film keramat yg shooting di Jogja. Hii.

Jalan-Jalan Lombok
Narsis pas mau pulang
Dan sampailah kami di lokasi. Gelap banget. Hanya ada satu sumber cahaya yaitu tempat di mana gong tadi dimainkan. 5 menit di lokasi gw baru menyadari bahwa halaman di sana telah dihuni oleh orang2 yg terlelap dalam mimpi. Sempat berpikir dengan beratapkan langit dan hanya menggunakan kemben, apa mereka tidak kedinginan ya.

Melihat suasana seperti itu, dalam hati akupun berteriak, "WOW, ini surganaya para fotografer HI". Dan kamipun mulai hunting dari pagi itu sampai siang jam 14.00 wita. Dan yg paling penting, gak lupa narsis2an. Hee..

Jalan-Jalan Lombok
Pas Sarapan di rumahnya Mulyadi
Untuk hasil Hunting Gw di TKP, silahkan klik DISINI.

Simple Night


Kenapa ya simple night? Gw ngerasa emang malam itu rada-rada sederhana. Meskipun setiap malam gak selalu gw alamin malam seperti itu, tapi memang malam seperti itu sering banget terjadi. Malam-malam yang hanya ada gw dan teman-teman cowok gw yang lain jalanin. Ngobrolin hal-hal yang rada absurd tapi menyenangkan. Pembicaraan-pembicaraan serius yang berujung dengan pembahasan bagaimana dapetin cewek yang lo suka.

Simple ya. Dan di tengah-tengah obrolan laki-laki galau tampan ini, salah seorang teman gw ngeluarin kamera poketnya yang berjudul canon. Lupa gw tipenya apa. Nah, tuw kamera gw pinjam dah karena dari kemarin tangan dah gatal banget pengen hunting. Daripada penasaran, poketpun oke. Dan gw mulai.

Beranjak dari tempat duduk gw semula di bawah pohon, gw mencoba mengambil gambar jalanan di depan tempat kita nongkrong. Kesunyian dan keheningan malamny menginspirasi gw. Setelan kamera yang semula auto gw ganti ke "P". Exposure value gw naikin 2 stop (+2) dan ISO gw setting di angka 400. Jadilah dia foto di bawah ini.

Simple Night

Gw pun mulai mengeksplore tempat lain. (Meskipun kata eksplore rada2 lebay karena gw hanya berpindah 5 meter dari tempat gw hunting semula ke tempat hunting berikutnya, tapi kata eksplore tetap gw gunain biar keliatan keren dan gaul). Ada berugaq di sekitar sana (berugaq = tempat santai yg terbuat dari kayu beralaskan papan beratapkan anyaman). Gw pun mulai motret di situ. Motret berugaknya meskipun sebagian dan juga motret papannya.

Simple Night
Gw suka keheningannya

Simple Night
Cahaya kuning yg rada over di atas kesannya nunjukin ada misteri di atas sana (menurut gw)
Skip hunting berugaqnya, gw beranjak 3 meter dari tempat itu dan nemuin hal menjijikkan di dunia nomor 14 versi Harry Hermanan. Apa dan bagaimana itu. Simak cuplikan di bawah ini.

Simple Night

Simple Night

I Just want to say, no matter what, you are the only one that i love. *eh, apaan sih. Maksudnya gini, gak peduli seperti apapun alat yang kamu punya untuk hunting foto, DSLR kah, Poket kah, bahkan kamera hape sekalipun, kalian tetap bisa menghasilkan sebuah karya yang bercerita. Kalian bisa mengekspresikan diri kalian sebebas-bebasnya. Jangan pernah takut saat orang lain berkata "Apaan, jelek tuh, gak mutu!". Karena orang itu telah jujur. Dan sering kejujuran itu menyakitkan. Jika kita bisa menerimanya, kita akan tau sakit apa itu. Dan jika kita tau itu sakit apa, maka kita akan lebih bijaksana dalam menentukan obatnya.

Salam, Dokter Harry Hermanan (Mimpi Kali Ye...)